|
Dulu aku merasa kisah paling lucu n mengagumkan seputar awal-awal masuk SMA adalah tentang Kimung yang waktu masuk SMA sudah berambut gondrong (sekarang sudah kapok), kenalannya kakak-kakak pemlonco, dan tandatangan absensi bergambar IWAK. Serius, gambar IWAK !! Tapi itu sebelum muncul cerita berikut ....
Di djaman SMA ga cuma anak lokal aja yang punya peranan, tetapi waktu itu juga sudah ada beberapa siswa interlokal. Si empunya cerita kali ini adalah seorang PUJAKESUMA yang akhirnya bersedia berbagi cerita setelah sekian tahun 'ngempet'; mungkin waktu itu dianggap aib ya .... Buat yang masih mutar memori, ini clue-nya: pake tas ransel tentara yang selalu berisi pisau, naik sepeda dengan setir kanan yang nylénthéng maju (bayangkan Brama Kumbara sedang naik kuda...) Alkisah sang tokoh mulai merantau ke Blitar setelah menyelesaikan jenjang sekolah sebelumnya di wilayah Lampung. Belum kenal siapapun waktu itu... Dan masih ingat pelajaran pertama jaman ORBA? Ya' betul, penataran P4. Yang ini tentunya nggak pake lain ladang lain belalang, lain Lampung lain Belitar... Beliau yang berangkat sekolah dari wilayah Sukorejo, tepatnya di gang pondok, dengan semangat SONGOTELU.COM pake seragam (masih pake putih-biru ya?) dan berjalan ke timur ke jalan Mawar menuju Pasar Kulon. Disitulah ditemukannya kekaguman baru,"Wah, luar biasa sekolah di Jawa ini, untuk Penataran saja disediakan angkutan khusus". (Ingatlah mobil warna kuning yang tercatat sejarah sebagai angkutan perintis di Blitar). Bertanyalah kepada pak kernet, "Penataran Pak?" , "Ya, ke Penataran, naik saja". Duduklah tokoh kita di bangku belakang. Angkudes mulai melaju menyisiri pinggir barat-utara kota Blitar. 'Oo, jalurnya memang lewat sini'. Sampe di SPG, perempatan dengan pohon beringin besar, angkudes berbelok ke utara. 'Oo, mungkin mesti lewat sini'. Tapi lama-kelamaan kok rumah-rumah di tepi jalan mulai semakin sedikit, kendaraan yang lewat juga semakin sepi. Penasaran juga nih, "Penataran Pak..", "Belum sampe mas". Singkat cerita, setelah melewati sebuah pasar dan angdes terus melaju ke kaki gunung Kelud. "Mas, sudah sampe Penataran", "Lho, sekolah saya tidak disini..." The moral is, kalo mau berangkat penataran P4, naiklah angkutan jurusan Lodoyo....
|