Sekitar jam 8 bengi aku sak rombongan dalah Yani, Kimung, lan Darmawan teko gang ngarep omahe Yuyun. Naliko kuwi, Thomas ugo tas teko gawe kaos lorek ireng putih. Sak wise berpelukan koyo teletubhies terus jumangkah mlebu gang nuju omahe Yuyun. Nang njero omahe Yuyun wis katon cah-cah podo ndlosor karo mesam-mesem koyodene, Alex, Leax, Andi Bio, Novan, Juivan, Pathoni, Annas lan liyo liyane. Dene sing putri enek Ningrum, Iis, Irene, Nina lan Tata yo mesti wae tambah Yuyun sak bojone lan konco bule-ne. Sak banjure dulur-dulur liyane mulai podo teko, koyoto Ali Mustofa lan Ali micin, Aris BJ dan gerombolannya, ugo Kang Sarip sak anak bojone. Sing Keri dewe si Boy Man alias Lukman.
Ketika semua berada dalam 1 ruang dan waktu yang sama, yakni diruang tengah rumah Yuyun, pada awalnya masing-masing sibuk dengan kelompok ngobrol yang tanpa komando membentuk 3 kelompok. Kelompok pertama cowok-cowok
bengal 93, kelompok kedua cewek-cewek
imut 93 dan kelompk ketiga adalah kelompoknya suami Yuyun dan kedua temennya. Sampai-sampai Suami yuyun bertanya apakah kebiasaan orang-orang indonesia seperti ini? Berbicara hanya pada kelompok masing-masing? Heheehehehe... Semua tahu maksud suami Yuyun setelah Yuyun sendiri menyampaikan hal itu pada kami-kami selanjutnya yuyun pun menjelaskan pada suaminya bahwa yang terjadi tidaklah seperti demikian itu, kami-kami sedang kemaruk setelah sekian lama tidak bertemu maka pertemuan kali ini tidak satu pun ingin melewatkan kesempatan untuk melebur kangen serta menyelesaikan urusan utang piutang semasa di SMA hahahaha...

Ada kejadian yang menarik ketika suami Yuyun mencoba nimbrung dengan kami khususnya kelompok
priyantun jaler. Dan yang terlibat dalam komunikasi lintas bangsa itu adalah Yani, Saiful dan Fahmi sedang Yuyun mendampingi sang suami tercinta. Saiful yang pernah hdup di Jerman ( Jejere Kauman )
didapok sebagai translator, sehingga bila dibuat diagram arus komunikasi itu adalah, dari Suami Yuyun ke Yuyun memakai bahasa Jerman, kemudian dari Yuyun ke Saiful menggunakana bahasa Indonesia barulah nyampe di hidung Yani BS dalam bentuk Bahasa Jawa. Sementara si fahmi hanya berjaga-jaga kalau-kalau diperlukan ketika komunikasi macet karena ada pembicaraan yang memerlukan pencerahan dari
hadits atau fiqih. Dan jangan heran bila Yani BS hanya cengar-cengir setiap menerima penjelasan dari Saiful hasil translit dari apa yang didapat dari Yuyun, maklum Yani sudah kesulitan mencerna bahasa Indonesia, sehingga Yani memerlukan penjelasan versi bahasa Jawa. Wekekekekeke...

Waktu terus berjalan, gelak tawa terus mengiringi setiap detik kebersamaan itu. Fahmi yang memiliki naluri Imam Mahdi, secara spontan mengajak hadirin mensyukuri serangkaian acara malam itu.

Meski semua tahu acara pertemuan di rumah saudari Yuyun tidaklah seformal acara-acara reuni pada umumnya, justru dengan begitu pertemuan itu membuat darah berdesir siapa pun yang hadir, mengisyaratkan apapun bentuk dan wujud kita saat ini satu hal yang sama-sama kita
amini, kita adalah satu keluarga, keluarga songotelu tercinta sampai diakhir hayat. Dan untuk melengkapi niat serta harapan atas kelanggengan persaudaraan songotelu fahmi menunjuk Darmawan yang semakin sholeh untuk memimpin do'a agar tujuan mulia nguri-nguri tali persaudaraan songotelu yang telah dirintis
Raden Mas Haryo Soekemproesh beberapa tahun silam dikabulkan Tuhan yang Maha Esa.

Acara dilanjutkan di medan perang guna melibas apapun yang nampak di meja makan. Semangat 45 yang dihembuskan Bapak Soeroto dijiwa-jiwa songotelu telah mendarahdaging. Tak pelak lagi, hampir seluruh musuh dimeja makan dibuat tak berkutik, tiada perlawanan sama sekali. Lihatlah Sang Panglima Perang, Kopral jendral BJ van Dongki, begitu entengnya mengayun senjata berupa sendok dan garpu, membasmi musuh satu demi satu, endingnya bendera kemenangan berkibar tak terbantahkan.

Disela-sela pesta kemenangan atas tegaknya kedaulatan kawulo telih songotelu. Yuyun the queen of the party merayakan ultahnya dengan simbol pemotongan kue tart. Didampingi suami tercinta Yuyun secara tersirat menyampaikan rasa syukurnya atas karunia tak terhingga sampai saat ini, nun dibalik semua itu kami semua berharap disertai do'a agar Yuyun selalu dan selalu mendapat yang terbaik disetiap jengkal kehidupan yang akan dilaluinya beserta keluarga.
Happy birthday yo Yuuunnnnnn....
Tibalah saatnya mengukir prasasti kumpul-kumpul di Blitar tersebut. Beberapa pothographer amatir serta Thomas yang sudah mahir, jeprat-jepret mengabadikan pertemuan itu dengan camera masing-masing. Pengambilan foto tanpa direct membuat semua nampak lebih natural, inilah keluarga songotelu yang enggak suka basa-basi, apa adanya, cenderung sak enak udele dewe hehehehe... Bila mana dalam pemotretan ada beberapa anggota keluarga songotelu yang belum terpotret kami mohon maap, bukan maksud mengabaikan namun lebih karena kondisi yang super gembira sampai-sampai si potograper sulit membedakan mana yang manusia dan mana mahkluk halusnya hahahhhaa...

Sepintas dari acara kumpul-kumpul keluarga songotelu di Blitar nampak wajah-wajah
sumringah tanda kebahagiaan menyelimuti disetiap insan yang hadir. Bila berbicara soal puas, tentu saja masih kurang puas, mengingat durasi waktu pertemuan yang demikian singkat. Wajar saja bila beberapa orang meluncur ke rumah Redi melanjutkan obrolan sambil bernostalgi. Namun memang begitulah seharusnya, agar kita terus tergerak untuk meracik pertemuan-pertemuan berikutnya. Sudah bukan jamannya lagi melihat masing-masing anggota keluarga songotelu
sekarang menjadi apa,
berwujud seperti apa,
dan bersifat bagaimana! Satu hal yang harus kita pegang dengan erat, kalau perlu kita torehkan dalam bentuk ukiran disanubari masing-masing, bahwa kita
telah, sedang dan
akan mencintai sesama apapun keadaannya, dengan cinta itulah modal konkrit membangun keluarga songotelu tanpa syarat. Manangislah kalau perlu atas rasa haru menyaksikan sekaligus menerima karunia-Nya dimalam itu, kita dengan garis kehidupan yang berbeda-beda masih mampu berlogika untuk bahu membahu membangunn sebuah keluarga besar
Generasi Sego Petjel Van Mblitar.
Thanks God!