|
Ditulis Oleh coim
|
|
Thursday, 16 July 2009 |
 Ada banyak hal dan peristiwa yang tidak dan belum sempat tertulis di atas daun rontal kitab songotelu. Seperti hal-nya Kitab Negarakertagama atau Kitab Pararaton yang menjadi patokan atas cermin sejarah van java, kitab Songotelu hanyalah lembaran-lembaran daun rontal tanpa pakem apalagi hikayat sehebat Negarakertagama dan Pararaton. Secuil cerita dan setetes harapan merembes disela pori-pori daun rontal Kitab Songotelu, meski belum berwujud kitab sebagaimana arti harfiahnya, namun dengan sedikit demi sedikit menorehkan cerita kehidupan dan perjalanan roda gerobak songotelu niscaya akan tercipta berbagai prasasti sebagai warisan untuk anak cucu kelak di rejo-rejaning jaman.
Semenjak songotelu.com berusia persis 1 tahun beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 5 bulan Juni 2009, memang belum ada seorang mpu atau pujangga yang berkenan menulis di lembaran daun rontal kitab songotelu. Bukan berarti tanpa ada cerita atau peristiwa penting yang terjadi di keluarga besar songotelu dot com. Namun demikian, cerita dan peristiwa diranah jaman songotelu ini terus berhembus secara tutur tinular dari anggota keluarga songotelu ke anggota lainnya, itu semua mengingat seluruh cerita atau peristiwa yang terjadi tidak mungkin semua dipaparkan dan disebarkan di atas jagad maya ini secara blak-blakan.  Ada beberapa catatan kecil yang mana sempat terjadi pertemuan-pertemuan informal antar beberapa anggota laskar Sego Petjel yakni anggota keluarga songotelu di Blitar. Mulai pertemuan di rumah Jeng Sari dalam acara khitanan putra keduanya, kemudian berhaha-hihi diiringi minum ronde hangat di padepokan RAMAHAL Jl. Cokroaminoto Blitar, atau sekedar mampir di perguruan watu kelud [warnet] milik saudara kita Dedi Piet di Jl. Kelud Blitar.  Belum lagi, nyanggong guna makan sate kelinci hasil jerih payah Cak Aris BJ di Jl. Tirtonadi no 50 Blitar (kawasan dongki). Meski tempatnya masih sederhana, namun hidangan sate kelinci plus ngakaknya tiada duanya di seantero Blitar. Sudah semestinya kita semua mensyukuri betapa sekarang banyak tempat atau lokasi yang memungkinkan buat merealisasikan kegiatan silaturahmi sesama generasi Sego Petjel Van Mblitar. Sementara gebrakan dan gerakan laskar Sego Petjel lainnya dalam melawan setan gentayangan tiap malam rabu masih terus melenggang melumat semua jajan yang terhidang tanpa belas kasihan disetiap kesempatan. Seperti malam rabu kemarin, bertempat di rumah saudara kita Anas Jl. Veteran Blitar. Setan dan iblis berwujud Nogosari, Ote-ote, dan lain sebagainya dibuat tidak berkutik dibawah uraian do'a Gus Syarif, sehingga seluruh anggota yang hadir mulai dari Aris BJ, Redi, Totok, Yoyok, Agus Sabtoni, Imam, Anang, Novan, Untung, Syaiful dan lainnya dengan mudah menghempaskan musuhnya satu persatu tanpa perlawanan.  Sementara itu dilain tempat, juga terjadi penggayangan kalau tidak boleh dibilang secara mentah-mentah taruhlah secara habis-abisan. Siapa mereka dan siapa musuhnya? Laskar Sego Petjel lainnya dibawah komando Sodancho Wingo Hercahyo menyatroni sarang pasukan UCHENG. Meski Budancho Rudy Irawan mencoba mencari jalan tengah-tengah melalui berbagai perundingan, ternyata mentok harus diakhiri dengan peperangan. Budancho Rudy Irawan dengan keahliannya memberikan intruksi atau petunjuk tentang waktu dan tempat yang tepat kepada Sodancho Wingo ketika keputusan perang melawan pasukan Ucheng sudah mutlak. Akhirnya, Sudancho Wingo beserta pasukannya atas petunjuk Budancho Rudy menuju benteng SUKARIA Djoyo Mulyo, Wlingi Blitar. Dengan perhitungan yang matang dan taktik perang disesuaikan medan perang, ternyata hanya cukup dengan senjata sendok dan garpu, seluruh pasukan Ucheng binasa seketika. Begitulah peperangan demi peperangan laskar Sego Petjel van mBlitar terus membuahkan hasil yang menggembirakan, itu semua untuk kelanggengan tali persaudaraan keluarga besar songotelu.
|