|
||
Depan
Cerita Dari Rantau
Coretan 93
Kenangan akan Sobat Ma'i | Kenangan akan Sobat Ma'i |
|
|
|
| Wednesday, 06 August 2008 | |||||
|
Flashback ke sekitar 5 bulan lalu.... Sebenarnya sudah lama aku memendam keinginan untuk bertemu teman lama, Sama'i. Memang bukan murni keinginanku sendiri, karena teman Yudi Wiranto sempat tanya, "Kabare Sama'i saiki piye yo, aku takon karo cah Pathuk jarene saiki dadi juragan sapi?". Setelah cukup lama, mulai kutelusuri lagi jalan raya Pojok, lalu belok ke utara mengikuti jalan yang sekarang sudah diaspal sebagian. Tidak sulit mencari rumah dengan kenanganku melayang ke masa 'itu' ketika teman Ma'i memembawakanku 'oleh-oleh' mercon seukuran jempol kaki. Juga keasyikan mencari degan di tegalan. Cuma maen ke Gunung Gedang sambil cari rumput saja yang masih jadi keinginan yang gak kesampaian... Aku masuk ke gerbang rumah dengan halaman penuh panenan kacang tanah yang sedang dijemur. "Menopo leres menika dalemipun mas Sama'i?" "Inggih mas, tapi pak Sama'i sampun mboten wonten mriki, sampun griya piyambak". Oo, rupanya benar bahwa sekarang dia sudah jadi 'orang sukses'. Di depan rumah yang cukup bagus... dan berpagar besi kuparkir sepeda motor. Ini rupanya rumah baru itu. Ada tiga ekor sapi sedang tertambat di halaman. Kuketuk pintu, dan muncullah seorang gadis kelas 4 Sd yang belakangan kuketahui bernama Dina. "Dik, pak Sama'i wonten?" "Bapak taksih nyambut damel, mangke radi siang biasane kondur sekedap, terus nyambut malih". "O, nggih sampun, sampeyan aturne ya, lek aku kancane pak Ma'i, sesuk ae tak mrene maneh" "Mboten pinarak rumiyin pak?", sungguh keramahan khas desa yang sulit ditemui lagi dijaman sekarang. Lusanya, kebetulan teman Kimung sedang pulang ke Blitar. Aku ajak aja ke Pathuk, tanpa kuberitahu sebelumnya. "Ayo, melu nggene kancaku!". Begitu motor masuk halaman, mas Ma'i keluar sambil senyum-senyum. Kutanya Kimung, "kelingan pora?". Tampaknya dia masih berusaha membuka lembaran ingatan. Tapi setelah senyum Ma'i mengembang, ingatan teman Kimung mulai terpicu. Rupanya picu itu meledak lebih dahsyat di ingatan Ma'i. Setelah berbasa-basi sejenak, meluncurlah banyak cerita dari mulutnya. "Beh, rasane jan koyo ndelok film yo mas, diputer maneh kok yo ora ilang. Pancene sing nggawe urip ki jan pinter, sakmono tahun kok ya ora ilang...." Berikut yang kucoba bagi dengan teman-teman sebisanya, sebagai keran atas kenanganku akan almarhum, semoga juga sebagai keran atas kenangan almarhum terhadap teman-temannya...dengan penuturan orang pertama... Aku dulu sungguh nggak pede ketika masuk ke kelas 1.4. Anak desa sepertiku kok ya kesasar masuk ke kelas anak-anak top. Masak ada anak walikota, anak dandim, juga anak pinter-pinter. Memang ada teman satu SMP, yaitu Imam Muslieh, tapi dia juga anak top di SMPku.....Sekedar berandai-andai,kalo saja aku dulu nggak masuk ke kelas 1.4, aku yakin bisa lebih berprestasi. Paling terkenang waktu kelas satu adalah dengan Heru Amrullah,"wis to I, ora usah nggarap, timbangane bukumu tak suwek lho...". Dia juga memberiku julukan Regul, masak orang diberi julukan kaya gitu. Terus, pada waktu itu itu aku masih belum tumbuh besar, selalu jadi kalahan dengan teman-teman..."I, duwurmu ki mek 4 kilan, njajal takkilanane..." lalu seminggu kemudian masih dikilani lagi, ...mundak...mundak....". (note: diceritakan almarhum sebagai kenangan indah, bukan permusuhan) Teman lain yang sangat kuingat lagi adalah Wingo, yang suka main ke rumah bawa mobil dan memborong degan berjanjang-janjang....Juga Pung Rudi serta Wawan (Wisma Wirawan) kalo gak salah.... Juga masih ada Desi Riani...dia suka main ke rumah, bahkan setelah lulus SMA masih sempat mampir. Sekarang dimana ya anaknya? Kenakalan? Aku dulu adalah salah satu petugas membeli jajan di selatan sekolah. Tentu saja melompati tembok belakang. Paling kuingat setelah membeli jajan, ternyata kursi untuk pancikan waktu memanjat sudah disembunyikan...waduh merepotkan sekali turunnya. Kapan hari aku lewat depan rumah Agus Rifai, kulihat tembok belakang sekarang sudah dibuat tinggi, anak-anak sekarang memanjatnya lewat mana ya... Namun ada satu hal yang sampai saat ini aku sesali. Aku masih ingat, di hari kelulusan, karena senang pada lulus,biasalah acara coret-mencoret. Aku sendiri ikut terlibat menceburkan seorang teman, kalo gak salah Didit, ke kolam tengah (red:kolam dengan orkes kodok). Karena takut ganti diceburin, aku memutuskan untuk pulang siang itu. Ternyata, setelah hari itu, aku nggak lagi menginjak halaman sekolah. Andai saja waktu itu aku memutuskan untuk pulang sore...dan biar aja diceburin juga nggak apa-apa, mungkin tidak ada penyesalan seperti ini..... Selamat jalan temanku Ma'i.... Catatan: Almarhum meninggalkan seorang istri dan 2 orang putri, yang pertama kelas 5 SD, yang kedua sekitar setahun lebih.
Maaf... hanya anggota yang bisa memberi komentar!
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||
| < Prev | Next > |
|---|
|
| Obrolan Songo Telu |
|---|
|
Latest Message: 9 months, 1 week ago
|
| Tempat Login |
|---|
| Menune 93 | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Total Pengunjung |
|---|
|
|
Soegeng Rawoeh wonten ing wisma aloemni SMAN 1 Blitar tahoen 1993. Minangka damel ngeraketaken saha nambahi raos sih katresnan toemprap sesami aloemni'93, pramilo kanthi nyoewoen pangestoenipoen, moegi-moegi songotelu.com saget maringi manfaat ing dalem njengkoejoeng saha ngoeri-ngoeri pasedoeloeran aloemni'93 meniko, noewoen !


