|
Ditulis Oleh kimung
|
|
Friday, 26 September 2008 |
Bagi teman-taman yang kuliah di Malang Angkutan Kereta Api sangatlah populer, disamping murah meriah juga sebagai tempat bertemunya teman-teman semasa sekolah dulu di Blitar, semacam reuni kecil-kecilan gitu…. Hampir di pastikan tiap hari sabtu/minggu stasiun selalu dipadati oleh mahasiswa terlebih lagi di awal bulan/tanggal-tanggal muda biasanya mereka pulang untuk ambil jatah uang saku. Demikian pula dengan Bambang dan Totok yang telah janjian ketemu di stasiun kota Blitar mau berangkat sama-sama kembali ke malang naik kereta api Penataran yang berangkatnya sekitar jam 3 sore-an supaya sampai di kost-kostan sebelum magrib kebetulan itu pas hari minggu di awal bulan. Sore itu penumpang begitu banyak kalo orang bilang seperti saat lebaran, begitu penuh dan sesak sehingga untuk mendapatkan tempat duduk maka harus berjuang ekstra keras karena siapa cepat dia yang dapat. Tak lama kemudian Petugas stasiun memberikan informasi dari pengeras suara bahwa kereta api penataran jurusan Blitar-Malang akan segera tiba dari arah barat, Sontak para calon penumpang bergegas menuju jalur lintasan yang akan di lalui kereta dan mereka berdiri berjajar di trotoar dekat rel siap-siap rebutan masuk. Begitu kereta tiba, semua berebut masuk kereta sehingga pintu gerbong terlihat penuh sesak. Totok yang berbadan tinggi besar tentu dengan mudah memenangkan perebutan dengan calon penumpang lain untuk masuk dan mencari bangku yang kosong, sedangkan Bambang yang berbadan kecil dan kurus harus terjepit diantara calon penumpang dan tertahan lama di depan pintu gerbong kereta terlebih dahulu, ketika dia bisa masuk ke dalam gerbong maka sudah tidak ada lagi bangku yang kosong. Jangankan bangku yang kosong, untuk dapat tempat berdiri aja susahnya minta ampun. Yang penting bisa terangkut meski harus berdiri dan berjejalan dengan penumpang lain dan tak lama kemudian kereta pun berangkat. Bambang yang bersimbah peluh dan nafasnya ngosnggosan hanya bisa melirik kepada totok yang dapat tempat duduk dan bersebelahan dengan gadis cantik, dalam hati mungkin bambang berpikir “enak sekali totok, sudah dapat tempat duduk bersebelahan dengan cewek cantik lagi, sedangkan aku harus capek berdiri dan berdesak-desakan”. Totok pun mulai mencoba ngajak ngobrol pada cewek yang duduk disampingnya dengan pertanyaan basa-basi standar seperti kuliah dimana? Semester berapa? dst. Melihat totok mulai beraksi maka Bambang pun iri melihatnya dan dia pun menghampiri totok sambil menyodorkan Semir sepatu plus sikatnya yang dia ambil dari dalam tasnya (ingat sejak SMA, di dalam tas bambang selalu ada semir dan sikat sepatu) sambil berkata serius tanpa nada bercanda, “nyoh… awakmu ra kerjo?” (“Niih… kamu nggak kerja?”). Melihat itu, si cewek langsung melengos mungkin dalam pikiran dia ternyata yang dia ajak bicara adalah tukang semir sepatu yang biasa mangkal di stasiun bukan mahasiswa seperti yang diceritakan. Totok pun malu setengah mati serasa mukanya di sayat-sayat pakai silet, dalam hati ia berucap “Bambang Kurang Ajar…!!”
|