|
||
Depan
| Jajan Pasar |
|
|
|
| Ditulis Oleh Shoim | |||||
| Monday, 03 November 2008 | |||||
|
Umumnya, Ngampirne Neton diberlakukan untuk anak-anak sampai dia usia remaja. Dan atribut untuk ritual tersebut adalah Bubur Merah ( jenang abang ) serta Jajan Pasar mulai Getuk, cenil, kicak, sampai brondong jagung hehehehe... Sementara peserta ritual adalah teman-teman dari anak yang sedang dislameti. Setelah memanjatkan doa yang dipimpin orang tua si anak, selanjutnya mereka berebut jajan pasar dengan cekikikan bahkan ada yang nangis karena jajan yang diincer sejak awal didahuli temannya kikikiki... kalau sudah begitu, "Yo wis gak popo nduk... sesok tak tukokne dewe, cup..cup.. wis meneng, saiki maem jenang abang ae...". Ritual 'asyik' yang sekarang sudah hampir punah itu menjadi olok-olok dikalangan remaja ndeso mBlitar. Kalo ada bocah yang berkelauan aneh bin bandel biasanya akan diolok " Bocah ora tau dispasari " atau " Bocah urung diampirne netone" . Yang jelas, kalau di level dusun wal ndesit saja, ritual itu sudah mulai hilang, apalagi di kalangan anak Kota Blitar, mestinya sudah jauh hari ritual itu tidak dikenal. Ngomong-ngomong soal jajan pasar, sekarang berbagai jenis jajanan itu sudah sulit didapat walaupun di dusun. Pergeseran jaman sangat terasa di dunia perjajanan anak-anak dusun mBlitar. Kalu dulu masih ada seorang mbok-mbok menjinjing bakul menjajakan getuk, kicak, cenil, ireng-ireng, utri bahkan gatot dan tiwul manis, berjalan keliling dusun atau stand by di pelataran sekolah TK dan SD, sekarang sudah tidak ada lagi. Bisa jadi si mbok-mbok sekarang sudah meninggal, atau beralih jualan sego petjel di rumah. Kalaupun kita coba masuk ke dalam pasar tradisional Blitar, jajan-jajan pasar seperti diatas juga sangat sulit ditemukan lagi. Sepertinya sudah tergantikan dengan jajan-jajan terbungkus plastik dengan warna-warni yang sangat diminati anak-anak, enggak tau boleh jadi banyak bahan kimia atau apalah yang dapat merusak perkembangan anak. Lagi pula, ketela atau ubi sebagai bahan pembuatan jajan tradisional juga sudah sulit didapat. Petani sudah berpikiran maju, saking majunya, sawah ditanami beton yang berbuah rumah dan gedung bertingkat. "Getoek asale soko telo
Maaf... hanya anggota yang bisa memberi komentar!
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||
| < Prev | Next > |
|---|
|
| Obrolan Songo Telu |
|---|
|
Latest Message: 9 months, 1 week ago
|
| Tempat Login |
|---|
| Menune 93 | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Yang Online |
|---|
| Ada 24 tamu and 1 anggota online |
| Total Pengunjung |
|---|
|
|
Soegeng Rawoeh wonten ing wisma aloemni SMAN 1 Blitar tahoen 1993. Minangka damel ngeraketaken saha nambahi raos sih katresnan toemprap sesami aloemni'93, pramilo kanthi nyoewoen pangestoenipoen, moegi-moegi songotelu.com saget maringi manfaat ing dalem njengkoejoeng saha ngoeri-ngoeri pasedoeloeran aloemni'93 meniko, noewoen !


Tidak semua dari kita yang tahu atau bahkan mengalami dislameti istilah wong ndeso dalam ritualnya untuk memohon kepada Tuhan agar diberi keselamatan. Dan ritual itu lebih populer dengan sebutan Ngampirne Neton alias slametan untuk memperingati hari kelahiran, tapi bukan ulang tahun sebagaimana yang kita ketahui jaman sekarang. Ngampirne Neton jatuh di hari pasaran jawa ( pon-kliwon) sehingga hari ritual bagi masing-masing orang yang mempercayai hal itu akan datang setiap 1 bulan sekali.