|
Akhirnya kereta tiba di stasiun Tugu Jogjakarta pukul 11.30 WIB, dengan ceria cah2 pun berhamburan keluar stasiun dan dengan berjalan kaki langsung menuju ke arah jalan malioboro. Kurang lengkap bila kawulo genthong tidak ada acara makan-makan maka warung angkringan yang murah meriah menjadi pilihan yang pas dengan kantong cah2 yang pas-pasan. (Angkringan = nangkring dlm bahasa jawa = cangkruk lah bahasa kerennya) Warung kaki lima dengan rombong di pinggir jalan banyak dijumpai di jogja terkenal dengan sego kucingnya yaitu nasi plus lauk seadanya yang dibungkus daun pisang dengan ukuran kecil2 yang kira2 takarannya sesuai dengan kalo kita memberi makanan pada kucing. Bayangkan berapa nasi kucing yang dihabiskan? Waktu itu teh jahe yang baru ngetrend di jogja menjadi minuman favorit kami, Seperti tak puas dalam artian kurang, kempus pun membungkus minuman tersebut dalam plastik untuk dibawa jalan-jalan. Bisa jadi benar petuah orang jawa kuno bahwa tidak baik makan/minum sambil jalan dan itupun terbukti ketika secara tidak sengaja kemprus pun bertabrakan dengan sepasang turis yang berjalan berlawanan arah sehingga tumpahlah minuman itu di dada Mrs. Turis. Seperti tak punya rasa takut dan dosa, kempruss pun mengusap dada mrs. Turis tersebut untuk membersihkan noda di bajunya sambil berkata I’m sorry… I’m sorry…
Mau sekali, dua kali atau berkali-kalipun terasa kurang bila menikmati suasana jalan Malioboro, maka keesokan harinya cah2 pun bersiap-siap plesir ke Malioboro lagi. Meski hanya jalan-jalan menikmati ramainya trotoar malioboro yang terasa sempit selain karena sebagian ruas trotoar yang dipenuhi lapak-lapak pedagang kaki lima juga karena banyaknya pejalan kaki yang berjubel saat masa-masa liburan sekolah, tapi yang jelas bisa cuci mata memandang cewek-cewek cakep dan sesekali berdesakan saat berpapasan itu suatu hal yang menyenangkan. Begitu dekat dibelakang cah2 berdiri dalam posisi saling berpunggungan, ketika membalikkan badan secara tak sengaja Ech... bertatap mukalah dengan Kimung yang mana dia telah berminggu-minggu tinggal di jogja. Surprise…. Tanpa sms, tanpa telpon, Tanpa janjian terlebih dahulu, maklum dulu belum ada handphone. Akhirnya kamipun bersama-sama lagi dan malam itu menginap di rumah mbahe gendut di daerah dekat radio retjo buntung yang lumayan dekat bila lewat rute nrabas gang-gang kecil di perkampungan. Biasa kalo cah ndeso itu ngisin-ngisini seperti Aris BJ yang ketika ada suara mengelegar di angkasa dan terlihat pesawat yang terbang rendah maka diapun teriak kapal… kapal…. Sambil jari telunjuknya menunjuk ke atas. Tanpa pikir panjang, gendutpun menghampirinya dan kepala BJ di rangkul di ketiaknya dan menjitaknya sambil membawanya masuk ke dalam rumah “ndeso… ndeso…. Ngisin-ngisini aku ae”, teriak gendut. Acara Keesokan harinya adalah mengiap di rumah Dedy Indrawan di daerah wirobrajan kalo nggak salah. Bayangkan 12 orang, Nasi plus lauk yang disediakan oleh ibu dedy ludes seketika. Begitu juga dengan kamar mandi yang harus bergantian. Ketika BJ di dalam WC dan lupa mengunci pintu, tanpa sengaja dibuka oleh adik Dedy yang Cewek dan “hai…!!”, BJ malah melambaikan tanggannya. Ups….Sensor! Beberapa hari di jogja Kami hidup secara nomaden maklum dengan uang saku yang pas-pasan maka cari gratisan hehehe….. Tempat singgah terakhir adalah di rumah keluarga Indra Bandrex di daerah dekat terminal Umbulharjo, setelah menginap semalam keesokan paginya kamipun pulang dengan uang saku yang hampir habis kamipun naik kereta api ekonomi jurusan jogja – surabaya turun di stasiun kertosono. Nyampai di kertosono, uang kami telah habis maka satu-satunya jalan untuk bisa pulang ke Blitar adalah dengan cara mencari tumpangan. Di simpang lima kertosono Kami berdiri berjajar di tepi jalan yang ke arah Blitar sambil merencanakan tips bagaimana cara nggandol truk atau pick-up dimana harus kompak dan jangan ada yang tertinggal. Setelah lama menunggu akhirnya lewatlah Truk gandeng yang berjalan pelan-pelan di jalan yang menikung. Dengan cekatan Semuanya langsung “hups…!” berusaha memanjat dengan segala daya upaya. Setelah masuk ke dalam bak truk maka kamipun saling berpandangan seperti mengabsen siapa yang belum terangkut. Belum sempat terucap, hanya dalam batin kami masing-masing, Sepertinya ada yang kurang…. Tak lama terdengar teriakan: “Haaiii……!! aku di sini!” Kamipun berdiri dan menoleh ke arah belakang, ternyata suara kempruss memangil-mangil yang telah berdiri di bak truk satunya (belakang) sendirian, rupanya kempruss salah naik di bak truk yang belakang. Kami semua tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut!
|