 perpus Bung Karno: Des 2008 by YBS Ada yang mengatakan, setelah mengalami puber pertama, lelaki akan mengalami lagi puber kedua. Dalam biologis, istilah itu sebenarnya tidak ada. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari ternyata hal itu gampang dijumpai. Keadaan ini umumnya timbul pada lelaki yang sudah mengakhiri fase dewasa muda (antara 30-40 tahun). Pada fase ini, akan terjadi perubahan dalam hal tingkah laku seperti pada puber pertama. Mengapa? Pada saat itu seseorang umumnya tengah berada di puncak karier, punya penghasilan tinggi, memiliki berbagai fasilitas seperti rumah, mobil, dan Villa. Artinya secara keseluruhan, mereka anggap hidup telah mencapai titik kepuasan dan perlu mencari kepuasan baru. Karena itu, dia pun kemudian berusaha ingin mendapatkan atau memiliki sesuatu yang pada masa remaja belum pernah dinikmatinya bahasa kasarnya balas dendam gitu loh….. Seperti keinginan untuk mengulang kembali masa percintaan masa ABG dulu atau kecenderungan untuk menjadi pusat perhatian cewek2 karena terilhami oleh film lupus atau AADC yang telah tertimbun dalam alam bawah sadar kita selama bertahun2.
Hubungan intens sesaat dengan ‘seseorang’ seperti barang baru yang menyita perhatian. Situasi baru yang mengairahkan karena rasa penasaran, apalagi kalau dibarengi dengan sensasi yang menyenangkan, akan membuat orang tertarik menikmatinya. "Seperti kalau kita beli sepatu baru sehingga pengin terus-menerus memakainya, sementara sepatu yang lama rasanya kok usang dan enggak menarik lagi. Ini karena orang sudah melihat kekurangan pada pasangannya, hal yang tak muncul pada hubungan dengan orang baru atau saat bertemu lagi dengan pacar lama. Jika hal-hal mendasar tadi tidak segera diatasi, individu yang tengah mengalami puber kedua memang sulit menolak perselingkuhan. Pengendalian Diri dan Toleransi
Banyak sekali kita temukan kasus-kasus perceraian. Dan tak sedikit yang berawal dari ketidak selarasan antar keduanya. Ketidak selarasan ini kerap berbuah ketidak cocokan yang yang meruncing kearah perpecahan. Bila ketidak selarasan itu terjadi karena salah satu pasangan yang kurang memahami perubahan psikis pasangan akibat puber kedua, sungguh menjadi hal yang amat disayangkan. Bagaimana mengatasinya? Menurut seorang pakar, sebagai lelaki Anda harus berani menyatakan perasaannya terhadap pasangannya termasuk rasa kecemasannya, ketakutannya dst misal takut menjadi tua, takut tidak menarik lagi, takut tidak berguna lagi dan lain-lain. Karena kalau semua 'penderitaan' itu disimpan sendiri di dalam hati, pasangan juga tidak akan tahu apa yang diharapkan sang lelaki.
Sebenarnya perubahan ini ada dampak positifnya, karena pada umumnya muncul kebiasaan baru pasangan yang tampak mengutamakan penampilan dan ini menyenangkan bagi pasangannya karena menjadi lebih rapi, elegan, wangi, dan trendi. Perubahan ini sebenarnya bisa membuat hubungan suami-istri jadi lebih harmonis. Mereka akan serasa kembali ke masa muda, saling menyayangi dan memperhatikan. Kehidupan seks pun serupa, perubahan ini cenderung membawa kehidupan seks menjadi kembali bergairah. Bagi kaum pria yang memiliki kehidupan seks tak terbatas usia, harus pandai dan bijak bersikap. kemampuan seksual istri yang terbatas harus diterima sebagai bentuk konsekuensi alami. Sementara istri sebisa mungkin memberikan bentuk kasih sayang lain dan perhatian yang tak kalah hangat. Bila memang Anda menganggap hubungan dengan ‘seseorang’ itu sekadar selingan, tak ada salahnya bila bercerita kepada pasangan. Dengan demikian, pasangan pun tahu dan tak merasa Anda mengabaikannya. "Misalnya, kalau suami senang sepak bola, sementara istrinya tidak. Lalu, suami punya teman perempuan yang juga gila bola dan mereka nonton bareng. Ini kalau dibicarakan secara terbuka tak menimbulkan masalah. Ini juga membuat Anda tak melihat pasangan hanya dari sisi negatifnya saja. Bagaimanapun, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan khan…
|